Wakaf Tunai Via Asuransi

posted in: Artikel Wakaf, Kabar | 0

Banyak manfaat yang bisa didapatkan dari digulirkannya dana wakaf (wakaf dalam bentuk uang). Kian kemari, semakin banyak objek dan aset yang bisa diwakafkan. 
Sejak MUI mengeluarkan Fatwa MUI Nomor 106/DSN-MUI/X/2016, tentang Wakaf Manfaat Asuransi dan Investasi pada Asuransi Jiwa Syariah, semakin banyak kemudahan berwakaf dengan nominal uang kecil. Dengan hanya membayar iuran tabarru’ Rp 700.000 per bulan, anda bisa memiliki wakaf Rp 1 Milyar, mudah bukan?. Hal yang sulit dilakukan dengan cara biasa, misalnya menabung secara konvensional.

Dengan fatwa tersebut, perusahaan-perusahaan asuransi syariah dapat mengeluarkan produk yang di dalamnya terdapat akad wakaf. Dalam peraturan tersebut, besarnya potensi tersebut dapat menjadi celah bagi asuransi syariah guna menarik wakaf masyarakat melalui gabungan produk asuransi.

Fatwa MUI Nomor 106 Tahun 2016 secara langsung telah menempatkan pelaku asuransi syariah sebagai mitra untuk melakukan sosialisasi dan literasi wakaf kepada khalayak luas.

Dengan literasi tersebut diharapkan masyarakat dapat lebih sadar, bahwa produk asuransi bisa diwakafkan. Caranya, membeli produknya untuk berinvestasi sekaligus berwakaf lewat asuransi syariah. Dengan produk unggulan wakaf, Generale telah memberi kesempatan setiap orang bisa berwakaf dengan mudah dan murah (everyone can wakaf)

Bagi perusahaan asuransi, peranannya memang sebagai fasilitator terkait sinergi dengan badan wakaf nasional. Jadi, skema yang sudah difatwakan adalah bagaimana perusahaan asuransi meng-collect dana masyarakat lewat produk asuransi, sekaligus juga berwakaf di badan wakaf.

Adapun Wakaf Wasiat Polis Asuransi Jiwa Syariah adalah adalah wakaf berupa polis asuransi syariah yang mana nilai investasinya dan atau manfaat asuransinya diwakafkan oleh tertanggung utama. Hanya saja dengan sepengetahuan ahli waris.

Termaslahat atau ahli waris yang tercatat di polis sejatinya tetaplah orang yang memiliki insurable interest (hubungan asuransi) dengan tertanggung, misalnya istri/suami, anak/orangtua, atau saudara kandung.
Tapi atas persetujuan semua ahli waris, uang pertangungan polis itu kemudian diserahkan ke lembaga sosial (lembaga wakaf) yang ditunjuk. Persetujuan ini dilegalkan dalam surat perjanjian yang ditandatangani semua ahli waris di hadapan notaris.

Setidaknya ada 17 badan wakaf yang telah terakreditasi DSN MUI, yang bisa bersinergi dengan Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI). Seiring dengan peningkatan kesadaran masyarakat untuk berwakaf, asosiasi pun akan segera melakukan perluasan kerja sama untuk mendistribusikan produk mereka melalui badan-badan wakaf tersebut.

Mengenai produknya sendiri, memang belum semua anggota AASI telah memiliki jenis asuransi berwakaf. Sejauh ini, baru Generale yang dengan jelas telah mendeklarasikan diri memiliki produk tersebut dan telah bekerja sama dengan Dompet Dhuafa. Ke depan akan terus dikembangkan untuk bekerja sama dengan lembaga wakaf lain

Oleh : Ir. Misbahul Huda (Ketua Gerakan Wakaf Indonesia)

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *