Refleksi Kehidupan

posted in: Artikel Wakaf, Kabar | 0

Berapakah  usia Anda sekarang? Berapapun umur anda lalui, hampir pasti all-out anda dedikasikan untuk anak-istri, keluarga dan profesi?. Tidak hanya itu, hampir semua waktu, usia dan energi habis untuk keluarga, kalaupun masih ada harta yang tersisa, masih juga kita belikan beberapa polis asuransi untuk jaminan kesehatan dan warisan demi kesejahteraan keluarga kita.

Pernahkah anda berfikir, kapan sempat menyiapkan bekal mati yang cukup untuk diri sendiri?. Kita semua menyadari, kematian adalah suatu kepastian, ingin ‘dikenang’ mati sebagai apa? adalah pilihan, yang harusnya bisa dipersiapkan.

Dengan kata lain,  mungkin saja saat ini Anda memiliki sejumlah asuransi life-protection, pernahkah terfikir sejenak tentang after-life protection?. Proteksi kehidupan sesudah mati, yang tidak ada siapapun yang bisa menolong kecuali amal kita sendiri.

Kematangan dan kesuksesan hidup seseorang, ditentukan pada akhir kehidupannya, kehidupan yang tidak terjebak pada orientasi kekinian, tetapi orientasi keselamatan ukhrawinya. Sesuai dengan pesan Nabi Muhammad saw, Orang cerdas adalah orang yang menjaga diri dan amal-perbuatannya untuk orientasi hidup setelah mati.

Rasulullah saw menegaskan: Apabila seseorang anak Adam wafat, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara : Shodaqoh Jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak sholeh untuk kedua orangtuanya. Pertanyaannya, apakah ada jaminan anak-anak kita tidak lupa mengirim doa untuk kita?. Apakah ilmu yang kita miliki benar-benar telah banyak manfaatnya? Atau apakah sedekah kita yang puluhan ribu itu cukup untuk ‘membeli’ surga?.

Apapun jawaban ketiga pertanyaan diatas, dipastikan tidak ada jaminan terkait keselamatan kita di akherat. Kecuali kita melakukan penyelematan atau proteksi diri sendiri dengan after-life protection, yaitu dengan cara amal jariyah berupa wakaf.

Sebenarnya, apa sih wakaf itu? Wakaf berasal dari bahasa Arab, “waqf”, yang artinya menahan, berhenti, atau diam. Secara istilah berarti harta benda yang disedekahkan, nilai pokoknya ditahan dan manfaatnya digunakan untuk kepentingan umum yang sesuai dengan ajaran Islam.

Selama harta wakaf ini masih ada dan memberikan manfaat untuk kepentingan umum, selama itu pula pahalanya akan terus mengalir meskipun orang yang berwakaf telah tiada. Istilahnya, meski umur terputus pahala mengalir terus, umur boleh berhenti tetapi kebaikannya tidak pernah berhenti. Kita pernah mengenal passive-income, itu sudah biasa, tapi kalau passive pahala baru luar biasa.

Masih banyak orang yang beranggapan bahwa harta tidak bisa dibawa mati, anggapan itu keliru.  karena mereka tidak tahu cara ‘membawanya’. Wakaf, adalah cara sederhana membawa harta dunia untuk membangun istana di surga. Suatu investasi untuk bekal bagi insan beriman, ketika saatnya kembali menghadap Tuhan.

Tidak ada yang dapat menampik betapa besarnya potensi ekonomi berbasis syariah di Indonesia. Tetapi, potensi tetap akan menjadi potensi, dan tidak akan pernah menjadi energi kemaslahatan kalau tidak dialirkan atau dimanfaatkan.

Ada ratusan ribu hektare tanah wakaf yang tidak bisa termanfaatkan karena ketiadaan biaya untuk membangun ‘manfaat’ diatasnya. Lahan wakaf tidur atau ‘terlantar’ tersebut dipastikan jumlah semakin bertambah, seiring dengan ketidak-tahuan masyarakat yang masih menganggap bahwa wakaf itu hanya berupa lahan, bangunan atau perkebunan. Padahal UU Wakaf nomor 41/2004 telah melakukan terobosan bahwa wakaf itu bisa berupa uang tunai. Namun sosialisasi terobosan wakaf ini tampaknya belum merata difahami oleh masayarakat kita.

Oleh: Ir. Misbahul Huda (Ketua Yayasan Gerakan Wakaf Indonesia)

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *